Cari Blog Ini

Minggu, 08 Maret 2015

PERAN PENDIDIKAN KEHUTANAN DI INDONESIA MENGHADAPI ASEAN SINGLE COMMUNNITY 2015


PERAN PENDIDIKAN KEHUTANAN DI INDONESIA MENGHADAPI ASEAN SINGLE COMMUNNITY 2015


Pendahuluan
Pendidikan kehutanan di Indonesia memiliki sejarah yang cukup panjang. Pendidikan formal kehutanan dimulai pada tahun 1963 di universitas negeri yaitu IPB dan UGM. Pada tahun-tahun berikutnya pendidikan formal kehutanan untuk swasta diawali berdirinya Akademi Ilmu Kehutanan Provinsi Jawa Barat. Pendidikan tersebut secara khusus dimaksudkan untuk mendidik Rimbawan di seluruh Indonesia. Hal itu kemudian berkembang luas pada era tahun 1990an ketika Jurusan Kehutanan mulai berkembang di daerah-daerah. Ekspansi yang cepat dalam pendidikan kehutanan pada awal tahun 1980. Kemudian menjadi sangat kontras dengan menurunnya pendidikan kehutanan pada akhir tahun 2010. Mahasiswa peminat Jurusan Kehutanan menurun drastis dan penurunan skill yang dibutuhkan seorang profesi rimbawan telah menyebabkan ketidakpastian dikalangan pendidik kehutanan. Selama 10 tahun terakhir, pendidikan kehutanan di Indonesia terus menurun di setiap tahunnya dan terjadi perubahan-perubahan yang radikal. Ini mencerminkan adanya perubahan dramatis yang telah terjadi tentang peran rimbawan yang profesional dan latar belakang pendidikannya. Fokus pada pendidikan yang profesional mengarah pada lulusan kehutanan di universitas-universitas di Indonesia. Meskipun terdapat banyak perbedaan antara program diploma dan lulusan program sarjana. Perbedaan mungkin pada pekerjaan bidang kehutanan di Indonesia antara program yang mengarah ke diploma (dianggap sebagai pendidikan teknis) dan program yang mengarah pada lulusan sarjana (dianggap sebagai pendidikan profesional).

Antara Tenaga Teknis dan Pendidikan Profesional
Hubungan antara pendidikan teknis dan pendidikan profesional sangat kompleks dan menjadi semakin sulit untuk dibedakan, terutama meningkatnya program sarjana untuk menjembatani pelatihan atau pengetahuan tambahan bagi seorang rimbawan yang sudah ada. Intinya pelatihan tidak dalam hal-hal teknis. Perdebatan ini menjadi sangat rumit karena perbedaan yang semakin jelas antara tenaga kehutanan profesional dan tenaga teknis yang terlatih. Misalnya para alumni rimbawan profesional bekerja di Departemen dan Dinas Kehutanan (Pemerintahan) sedangkan tenaga teknis kehutanan untuk memenuhi pekerjaan perusahaan kehutanan di luar Jawa.
Perbedaan artificial antara program diploma dan program sarjana dianggap gagal untuk memperhitungkan bahwa banyak perguruan tinggi memberikan kredit kepada mahasiswa dengan ijazah yang dikeluarkannya. Sehingga program diploma memungkinkan untuk masuk (melanjutkan) ke dalam program sarjana seperti yang terjadi tahun-tahun terakhir. Dalam beberapa kasus program tersebut telah berhasil, tetapi dalam beberapa kasus program yang dirancang memungkinkan mahasiswa diploma mengupgrade pengetahuan secara keseluruhnya. Di sisi lain, pekerjaan pertama rimbawan dari posisi tenaga teknis terlatih dari keterampilan yang telah dipelajari di universitas mungkin akan cepat hilang. Gaji yang relatif rendah dan sering dalam kondisi kerja yang sulit berhubungan dengan posisi dapat bertindak sebagai disinsentif bagi profesinya. Banyak rimbawan terlatih menganggap bahwa terlalu banyak bahan materi yang diajarkan, sedangkan materi (khususnya bidang keterampilan) yang benar-benar dibutuhkan tidak diajarkan dengan cukup.
Pendidikan teknis kehutanan menghadapi hal yang sama dengan masalah pendidikan profesional yang ditandai penurunan mahasiswa peminat kehutanan. Masalah ini disebabkan karena sumber daya hutan yang makin menurun dan terjadi penutupan beberapa pendidikan kehutanan. Sebagai contoh yang dikemukakan Temu et al (2003) menyatakan bahwa pendidikan teknis kehutanan di Afrika hampir menghilang sejak tahun 1999. Hal ini telah menciptakan masalah bagi perekrutan untuk teknisi kehutanan yang terlatih, khususnya di Afrika dimana masalah tersebut tampaknya menjadi akut. Jumlah perguruan tinggi yang menawarkan pelatihan kehutanan telah menurun selama beberapa tahun dan kejadian ini lebih lanjut mengakibatkan menurunnya tingkat keterampilan. Pada saat yang sama, ada pengakuan yang berkembang antara asosiasi kehutanan profesional yang ada dengan kebutuhanuntuk melanjutkan pendidikan. Hal ini tidak mengherankan mengingat laju perubahan dalam profesi kehutanan. Asosiasi profesional perlu memastikan bahwa keterampilan anggotanya harus terus diperbaharui, kapasitas pendidikan dan pelatihan di universitas dan akademi merupakan cara yang logis untuk mencapai hal tersebut.

Penurunan Minat Kehutanan Secara Global
Sebuah tren terlihat di beberapa negara Eropa dan Amerika yaitu menurunnya angka individu yang ingin kuliah untuk gelar kehutanan. Tren ini dengan perkiraan penurunan 30% secara keseluruhan (Temu et al, 2003). Masalah ini diakui sebagai krisis global yang dihadapi pendidikan profesional kehutanan (Miller, 2004). Sementara banyak negara lainnya terutama negara-negara yang memiliki pulau kecil tidak memiliki kapasitas pendidikan kehutanan, sedangkan yang lain telah menutup lembaganya (Oxford Forestry Institute sudah dibekukan) dan penutupan diantisipasi dalam waktu dekat. Inggris telah melihat penurunan dramatis pelaksanaan untuk program kehutanan, dari sekitar 325 program tahun 1996 menjadi 156 program di tahun 2003 (Burley et al, 2004). Di Kanada juga menunjukkan adanya hal yang sama. Jumlah mahasiswa yang terdaftar di program kehutanan menurun dari 1.881 tahun 1996 menjadi 1.463 pada tahun 2004 (Innes, 2010). Jika mahasiswa yang mengambil program konservasi sumber daya alam, ilmu pengetahuan dan teknologi kayu dihilangkan, maka angka penurunan akan jauh lebih besar. Pada waktu yang sama masih ada permintaan untuk rimbawan yang terlatih dan di beberapa negara mulai melaporkan adanya kekurangan lulusan kualifikasi kehutanan.

Nama Kehutanan, Apakah Suatu Nama Yang Menarik?
Alasan makin marak menurunya pendidikan kehutanan sangat kompleks. Hal tersebut terjadi ketika permintaan pendidikan berbasis universitas semakin meningkat, meskipun peminat di banyak ilmu telah menurun. Ada dua kelompok alasan mengapa terjadi penurunan. Pertama karena calon mahasiswa tidak mengerti atau tidak memahami tentang kehutanan. Kehutanan tidak umum diajarkan pada tingkat sekolah menengah, bahkan banyak calon mahasiswa tidak menyadari ada disiplin ilmu yang disebut kehutanan. Alasan kedua didasarkan pada premis bahwa calon mahasiswa menyadari adanya disiplin ilmu kehutanan, tetapi untuk membuat keputusan secara sadar untuk tidak memasukkinya. Berbagai alasan telah dikemukakan untuk hal ini. Sebagai contoh menurut Temu et al (2003) menganggap bahwa hal ini dikaitkan dengan kegagalan pendidikan kehutanan untuk menanggapi perubahan sosial dengan cepat, perubahan ekonomi dan politik dalam praktek kehutanan. Ditambahkan bahwa karakter pendidikan kehutanan sangat tidak berorientasi pasar (Temu et al, 2003). Selain itu menurut Luckert (2006) menyatakan penurunan berhubungan dengan berkurangnya kesempatan kerja untuk lulusan kehutanan yang profesional. Weston dan Whittaker (2009) mengusulkan penjelasan yang lebih halus, dengan alasan bahwa calon mahasiswa mengasosiasikan disiplin kehutanan dengan kegiatan yang dilakukan oleh teknisi dari lulusan universitas. Namun penjelasan lain adalah bahwa istilah kehutanan menjadi ireversibel terkait dengan perusakan hutan dan bukan berkaitan dengan pemeliharaannya.
Apakah disiplin ilmu kehutanan layak untuk pendidikan universitas, atau itu sebatas subjek teknis yang bukan untuk universitas tapi cukup dengan diploma? Kehutanan sebagai disiplin akademik yang luas meliputi berbagai macam, berkaitan dengan alam dan ilmu sosial. Namun di beberapa universitas, kehutanan tidak pernah dianggap cukup penting bagi fakultas. Program kehutanan dianggap relatif kecil dibandingkan dengan fakultas gabungan lainnya pada universitas. Ini sebagian mencerminkan penurunan peminat dalam program kehutanan, dan sejumlah pendekatan yang berbeda telah diadopsi dalam upaya menopang penerimaan mahasiswa. Pada beberapa universitas ada yang mengubah nama departemen kehutanan, karena keyakinannya bahwa istilah kehutanan dan rimbawan terlalu banyak berkonotasi negatif. Hal lain telah menurunkan standar dan kebijakan yang berulang kali terbukti keliru.

Kehutanan Mengubah Nama Atau Sekedar Perluasan Disiplin Ilmu
Tidak ada jawaban yang jelas apakah disiplin kehutanan harus tetap khas. Beberapa masih ada manfaat secara keseluruhan, terutama kepentingannya dalam isu-isu lingkungan dan asal-usul produk dari hutan. Produk kayu semakin terkait dengan asal-usulnya melalui persyaratan sertifikasi. Banyak orang ingin mengetahui apakah produk yang dibeli berasal dari sumberdaya hutan yang dikelola secara berkelanjutan. Pihak yang bekerja di bidang kehutanan umumnya memiliki kepentingan bersama, yaitu hutan dan produk-produknya dapat bersinergi yang dapat dikembangkan melalui profesional dari latar belakang akademik yang berbeda dan bekerja sama dalam masalah-masalah substansial secara umum. Pihak yang mendukung pembubaran kehutanan sebagai disiplin pendidikan lebih berminat pada kehutanan yang bersifat tradisional, manfaat dari kehutanan bahwa mahasiswa menerima pelatihan dari berbagai fakultas yang berbeda.
Ada perubahan sifat dalam pendidikan kehutanan. Menurut laporan yang disampaikan Temu et al (2003) mengidentifikasi sejumlah kasus, dimana pendidikan kehutanan perlu adanya perubahan. Beberapa rekomendasi, yaitu:
>  Restrukturisasi pendidikan kehutanan untuk menangani masalah-masalah lintas sektoral dan masalah lainnya seperti ketahanan pangan dan kemiskinan
>  Memasukan pengelolaan pada lahan semak-belukar dan areal hutan rendah ke dalam pendidikan kehutanan
>  Memulai mekanisme global untuk merangsang investasi dalam pendidikan kehutanan, terutama pelatihan pendidik, pengkajian kurikulum dan pengembangan pembelajaran yang relevan
>  Menyusun strategi pendidikan kehutanan yang relevan dengan kaum pemuda dan perempuan secara terintegrasi dengan program yang baik yang mencerminkan kehutanan yang lebih luas
>  Penguatan kapasitas sumberdaya manusia dalam pengelolaan pohon di luar kawasan hutan
>  Meningkatkan kolaborasi antara institusi yang lebih tinggi

Secara tradisional dipandang sebagai suatu disiplin yang kuat dalam ilmu alam. Kunci kontribusi program dibuat dalam bidang biologi, kimia, fisika dan ilmu-ilmu alam lainnya. Hal ini karena kehutanan dianggap hanya sekitar mengelola hutan. Namun dengan semakin dikenalnya kehutanan yang sebenarnya untuk menanggapi tentang kebutuhan stakeholder kehutanan (Luckert 2006), berbagai kontribusi dari ilmu sosial harus dimasukkan. Akibatnya unit pengajaran yang berhubungan dengan pengelolaan hutan masih tetap mengandung silviculturalists, ekonom neoklasik dan biometrician, tetapi pembelajaran kehutanan akan ditambah dengan geografer, antropolog, psikolog, perencana (planner), manajer bisnis, hydrologists dan insinyur (engineer). Perluasan disiplin kehutanan ini bisa juga menciptakan masalah. Banyak perguruan tinggi yang sekarang menawarkan gelar kehutanan dari campuran program yang disediakan oleh berbagai departemen dan fakultas di universitas. Meskipun ada pengecualian pada program tersebut, ada benturan dengan beberapa keterampilan dasar yang diperlukan rimbawan yang kurang diajarkan (Temu et al, 2003).

Mengulas Peran Pendidikan Kehutanan (Studi Kasus di Fakultas Kehutanan IPB)
Fakultas Kehutanan IPB Sebagai lembaga pendidikan tinggi, tidak hanya mengembangkan proses pendidikan di lingkup unit IPB saja, tetapi turut pula berperan dalam pengembangan dan pembinaan pendidikan di perguruan tinggi lainnya, khususnya di bidang pendidikan kehutanan, baik perguruan tinggi negeri maupun swasta. Program pembinaan berupa program afiliasi Jurusan Kehutanan pada universitas-universitas negeri, yaitu antara lain Universitas Cenderawasih, Universitas Tanjung Pura, Universitas Lambung Mangkurat dan Universitas Pattimura. Selain itu berpartisipasi dalam pengaktifan kembali Fakultas Pertanian, termasuk Jurusan Kehutanan di Universitas Palangka Raya. Sedangkan pembinaan pada perguruan tinggi swasta, antara lain berperan aktif dalam mendirikan Akademi Ilmu Kehutanan Propinsi Jawa Barat, yang sekarang berkembang menjadi Fakultas Kehutanan Universitas Winaya Mukti. Selain itu IPB turut berpartisipasi aktif dalam pembentukan Sekolah Tinggi Ilmu Kehutanan Pante Kulu di Aceh, Fakultas Kehutanan Universitas Nusa Bangsa di Bogor dan Fakultas Pertanian Jurusan Kehutanan Universitas Simalungun Sumatera Utara. Peran IPB lainnya memberikan sumbangan pemikiran dalam penentuan kebijakan pengelolaan hutan di Indonesia. Beberapa program penting yang mengisi sejarah pengelolaan hutan di Indonesia yang pemikirannya oleh Kehutanan IPB antara lain Program Agroforestry, Sistem Silvikultur Tebang Pilih Indonesia (TPI), Biofertilizer (Micorhiza), Konsep Hutan Kota, Biorefor (Biotechnology Assisted Reforestation), Konservasi Tumbuhan Obat dan Sistem Pengendalian Kebakaran Hutan.
Sejak berdiri tahun 1963 sampai sekarang telah banyak melaksanakan kegiatan-kegiatan kerjasama dengan instansi lain, baik dalam bidang pendidikan, penelitian dan pengabdian kepada masyarakat. Kerjasama dengan instansi pemerintah di dalam negeri antara lain dengan Departemen Kehutanan, Departemen Transmigrasi, Menteri Negara Lingkungan Hidup, Bappenas. Demikian pula dengan instansi swasta, seperti perusahaan-perusahaan HPH, perusahaan-perusahaan HTI dan perusahaan-perusahaan Konsultan, telah banyak terlaksana kegiatan kerjasama dalam ketiga bidang tersebut. Adapun kerjasama dengan instansi di luar negeri mencakup kerjasama dengan institusi pendidikan (universitas), riset, dan swasta. Kerjasama dengan universitas di luar negeri umumnya berbentuk program pertukaran staf pengajar serta program yang berkaitan dengan kerjasama teknik, pendidikan dan penelitian. Sedangkan kerjasama dengan institusi riset, seperti FAO, ITTO, CIFOR, ICRAF, IUFRO, GTz, WWF, umumnya berkaitan dengan program kerjasama penelitian.

Peran Pendidikan Kehutanan Menghadapi ASEAN 2015
Ada apa dengan ASEAN 2015? Pada tahun 2015 akan menghadapi Asean Single Communnity. Terus titik beratnya pada sektor apa? Sudah pasti berkaitan dengan kompetisi ekonomi. Apakah Indonesia akan mampu bersaing? Kesiapan masyarakat Indonesia dalam menghadapi Asean Economic Communnity (AEC) masih sangat kurang. Jika kondisinya masih seperti ini maka Indonesia akan menjadi tamu di dalam rumah sendiri. Melihat negara tetangga sesama ASEAN yaitu Singapore, Thailand dan Malaysia sudah sangat siap dalam menyambut AEC 2015. Berbagai event dan sosialisasi sudah dicanangkan oleh negara tersebut. Melalui pendidikan yaitu meningkatkan kualitas sumberdaya manusia (SDM) di negaranya. SDM akan menjadi aset dan agen perubahan dalam menghadapi AEC 2015. Asean Single Communnity juga menyangkut pasar tenaga kerja yang sehat dan transparan.
Bagaimana dengan peranan pendidikan kehutanan? Dalam hal apa bisa berkompetisi pada Asean Single Communnity? Pertanyaan ini barangkali mengingatkan kita di era tahun 1960 sampai 1990, bahwa sektor kehutanan menjadi sumber devisa utama sebelum migas dan pertambangan berjaya. Bahkan apabila dilihat lebih jauh produksi dalam negeri belum banyak diterima oleh masyarakat internasional. Hal ini bisa dilihat dengan neraca perdagangan kita, bahwa import lebih besar dari produk yang kita ekspor. Semakin diperjelas lagi, baru-baru ini CPO dan Karet ditolak dalam KTT APEC masuk list komoditas ramah lingkungan. Padahal perkebunan sawit sudah sangat menasional, hampir seluruh pulau Sumatra dan Kalimantan sudah disawitkan. Sektor batubara belum banyak memberikan kesejahteraan bagi masyarakat Indonesia. Batubara baru tahap eksploitasi dengan harga produk yang sangat murah dan pasarnya dimonopoli oleh China. Sementara untuk sektor kehutanan dengan sistem verifikasi legalitas kayu (SVLK) untuk menjamin legalitas kayu dan produk kayu Indonesia sudah disetujui oleh Uni Eropa. Dengan kepastian mutu dan legalitas kayu ini bisa meningkatkan ekspor kayu atau produk kayu Indonesia ke Eropa. Dengan peningkatan daya saing akibat perjanjian perdagangan kayu dan produk kayu, bisa mempertahankan total ekspor Indonesia ke Eropa. Jika di pasar Uni Eropa bisa diterima, tentunya dalam menatap Asean Single Communnity sektor kehutanan penuh dengan rasa optimisme.
Kembali ke peranan pendidikan kehutanan, tentunya berperan dalam meningkatkan kualitas Rimbawan di Indonesia. Para rimbawan akan menjadi aset dan agen perubahan dalam menghadapi Asean Single Communnity. Sebagai bahan pertimbangan Pendidikan Kehutanan bisa mengkaji perspektif mahasiswa kehutanan global. Dalam setiap diskusi pendidikan kehutanan sangat penting untuk mempertimbangkan pandangan mahasiswa. Ada organisasi global untuk mahasiswa kehutanan yaitu Perhimpunan Mahasiswa Kehutanan Internasional (International Forestry Students Association). Sebuah dokumen yang disiapkan untuk Kongres Kehutanan Dunia tahun 2009, rencana aksi global untuk pendidikan kehutanan menurut IFSA (2009) mengakui empat isu pokok utama, yaitu kurangnya pengakuan masyarakat akan pentingnya hutan dan manajemen, kurangnya lembaga pendidikan kehutanan dan lingkungan, kurangnya dukungan finansial untuk menerapkan pendidikan yang efisien bagi lembaga yang sudah ada, dan kebutuhan adaptasi kurikulum dan metode untuk persyaratan pekerjaan. Selanjutnya harus mengenali sejumlah masalah lainnya, berkaitan menurunnya minat kehutanan, investasi tidak memadai di sektor kehutanan, integrasi yang miskin tema seperti keanekaragaman hayati, agroforestri, perubahan iklim dan lingkungan ke dalam kurikulum kehutanan yang masih tradisional. Sementara rencana aksi mahasiswa adalah pekerjaan yang sedang berjalan tidak mengandung kesimpulan yang penting, bahwa pendidikan kehutanan akan berhasil jika terintegrasi dengan pengorganisasian yang terbuka dan sektor kehutanan menjadi menarik untuk dikerjakan. Semua perspektif tersebut harus bisa terjawab dan menjadi tantangan bagi pendidikan kehutanan dalam memasuki Asean Single Communnity.


Daftar Pustaka

Burley, J, Plenderleith, K., Howe, R dan Smith, P. (2004), Forest education and research in the United Kingdom, Proceedings of the International Symposium on Forest Research and Education for the 21st Century, 12 October 2004, Korea.

IFSA (2009), Global action plan for forestry education, Discussion Paper, Version 2.2, 2 October 2009, International Forestry Students Association, Freiburg, Germany.

Innes, J.L. dan David Ward. (2010), Professional Education in Forestry. Canada

Luckert, M.K. (2006), Has the myth of the omnipotent forester become the reality of the impotent forester? Journal of Forestry, Vol. 104 (6)

Miller, H. (2004), Trends in forestry education in Great Britain and Germany, 1992 to 2001, Unasylva, No. 216 Vol. 55, pp. 29-32

Temu, A.B., Mwanje, I. Dan Mogotsi, K. (2003), Improving agriculture and natural resources education in Africa: a stitch in time, World Agroforestry ICRAF, Nairobi, Kenya.

Weston, C. dan Whittaker, K. (2009), Forestry is a handy word but not the right one for attracting students, Proceedings of the 24th Biennial Conference of the Institute of Foresters of Australia, Caloundra.

Rabu, 04 Maret 2015

PERANAN BAKTERI DALAM FERMENTASI MAKANAN KHAS KALIMANTAN BARAT (CINCALOK)


Peranan Bakteri Dalam Fermentasi Makanan Khas Kalimantan Barat (Cincalok)

Ringkasan
Jenis makanan yang paling khas, populer dan diminati warga Kalimantan Barat yaitu Cincalok. Makanan ini berupa udang berukuran kecil yang proses fermentasinya terjadi dengan bantuan mikroba. Salah satu mikroba yang berperan penting dalam proses fermentasi adalah dari kelompok bakteri asam laktat. Makanan ini juga ditemui di daerah Malaka (Malaysia), Philipina dan Jepang. Dari cerita turun temurun bahwa Cincalok merupakan makanan yang sangat lezat bagi penduduk sekitar. Di kampung orang biasanya hanya makan nasi dan dicampur Cincalok serta ditambah lalapan sayur. Kenikmatannya diceritakan dan diungkapkan dalam frase kalau sedang makan cincalok, mertua lewat pun kita tak akan sadar. Hal tersebut karena nikmatnya sering membuat ketagihan bagi setiap orang yang memakan jenis hidangan ini. Udang yang digunakan untuk membuat Cincalok adalah udang dari genus Acetes. Proses awal produksi secara tradisional yaitu dengan pencucian udang dengan air laut, lalu udang yang telah dicuci akan dicampur dengan garam, gula atau cabai untuk dilakukan fermentasi. Hasil uji organoleptik untuk formula Cincalok menunjukkan responden paling menyukai formula Cincalok dengan waktu kematangan yang disukai panelis adalah hari ke-8 dan masa kadaluarsa formula Cincalok adalah hari ke-30 berdasarkan tekstur dan tampilannya.



Pendahuluan
Beberapa kampung di Kalimantan Barat mempunyai khasanah kuliner yang agak khas dan ekstrim. Dua jenis kuliner tersebut diantaranya, yaitu cincalok dan budu. Keduanya punya persamaan, yaitu dari bahan dasar ikan atau udang yang digarami. Cincalok menggunakan udang kecil (halus), sedangkan budu menggunakan ikan teri segar. Ikan atau udang itu cuma diberi garam dan disimpan dalam wadah tertutup. Tujuannya agar cincalok dan budu lebih awet. Cincalok dan budu biasanya dimakan begitu saja, artinya tidak perlu dimasak. Biasanya cukup diberi perasan air jeruk dan ditambah cabe rawit. Tapi bisa juga ditumis dengan berbagai variasi. Ciri khas keduanya adalah baunya yang menyengat. Seperti bau busuk, tapi justru semakin berbau busuk menjadi salah satu sumber kenikmatan memakannya.
Apabila dibandingkan dengan budu, makanan yang paling khas Kalimantan Barat maka Cincalok jenis makanan yang paling populer. Makanan ini berupa udang berukuran kecil yang proses fermentasinya terjadi dengan bantuan mikroba. Salah satu mikroba yang berperan penting dalam proses fermentasi adalah dari kelompok bakteri asam laktat (Achmad et al 2013). Makanan ini juga ditemui di daerah Malaka dan termasuk bahan untuk masakan keluarga. Bahan makanan ini digunakan untuk membuat sambal (Hutton, 2007)
Dari cerita secara turun temurun, Cincalok merupakan makanan yang sangat lezat bagi penduduk sekitar. Di kampung orang biasanya hanya makan nasi dan dicampur cincalok atau budu serta ditambah lalapan sayur. Kenikmatannya diceritakan dan diungkapkan dalam frase kalau sedang makan cincalok, mertua lewat pun kita tak sadar. Hal tersebut karena nikmatnya sering membuat ketagihan bagi setiap orang yang memakan jenis hidangan ini.

Berbagai versi Cincalok : Malaysia, Jepang dan Philipina
Seperti halnya di Kalimantan Barat bahwa Malaysia mengklaim Cincalok sebagai sejenis lauk pauk dalam hidangan tradisional dengan nama Cencaluk. Lauk pauk ini dibuat dari bahan udang halus yang lebih dikenal sebagai udang geragau. Cencaluk menurut orang Malaysia mengandung protein yang tinggi. Secara umum udang geragau di Malaysia sulit untuk mendapatkannya. Di Malaysia udang ini hanya ada pada musim tertentu di Pantai Klebang, Limbongan, Tanjung Kling dan beberapa kawasan pesisir pantai yang lain.
Di negara Malaysia makanan ini bahkan tersedia di berbagai supermarket dalam kemasan botol modern dan lengkap dengan labelnya. Lebih mengejutkan lagi karena ternyata orang-orang Philipina juga memiliki makanan serupa sejenis Cincalok. Bahkan di Jepang pun banyak ditemukan makanan jenis tersebut. Orang Jepang menyebut udang halus dengan sakura ebi. Mereka punya shiokara, yaitu makanan berupa ikan atau udang yang diawetkan dengan penggaraman. Sakura ebi shiokara adalah cincalok versi Jepang. Selain dari udang halus, orang Jepang juga membuat shiokara dari cumi. Daging cumi berikut isi perutnya dipotong-potong, digarami, lalu didiamkan beberapa hari. Hasilnya bahwa shiokara dari cumi mirip dengan cincalok maupun budu.

Bakteri Berperan Dalam Fermentasi Cincalok
Bakteri yang berperan dalam proses fermentasi cincalok adalah kelompok bakteri asam laktat. Kelompok bakteri ini memiliki kemampuan untuk menghasilkan senyawa dengan aroma dan rasa khas, meningkatkan nilai cerna makanan, dan menghasilkan senyawa antimikroba yang dapat menghambat atau membunuh mikroorganisme seperti asam laktat, hidrogen peroksida, karbondioksida, dan bakteriosin. Bakteri yang berhasil diisolasi adalah Lactobacillus sp. dan Streptococcus sp (Achmad et al 2013). Penelitian lain melaporkan bahwa ditemukan juga bakteri dari genus Staphylococcus dengan bakteri langka yaitu Staphylococcus piscifermentans (Hajar dan Hamid, 2013). Bakteri yang dominan ditemukan pada Cincalok dari Thailand adalah Lactobacillus sp. dan Lactococcus sp. Berdasarkan sekuens 16s, ditemukan bakteri Staphylococcus piscifermentans dengan strain langka yang sebelumnya hanya ditemukan pada isolat dari ikan. Bakteri penghasil γ-butyric acid (GABA) yaitu Leuconostoc NC5 juga ditemukan pada cincaluk. Semua bakteri ini akan memberi nilai tambah yang positif bagi pengawetan dan nilai gizi dari cincalok yang biasa digunakan sebagai saus pada hidangan di negara-negara Asia Tenggara. Hidangan ini bermanfaat sebagai pengawet alami dan kultur starter makanan fermentasi (Achmad et al 2013).

Gambaran Proses Produksi Cincalok Secara Umum
Udang yang digunakan adalah udang dari genus Acetes (Alabastro et al, 1985). Proses awal produksi secara tradisional adalah pencucian udang dengan air laut, lalu udang yang telah dicuci akan dicampur dengan nasi dan garam. Campuran disimpan pada wadah tembikar dan ditutup dengan kain atau penutup tembikar. Selanjutnya campuran didiamkan selama 20 hingga 30 hari agar terfermentasi sempurna. Beberapa produsen menambahkan asam benzoat dan pewarna merah pada akhir fermentasi, namun ada juga yang menambahkan saus tomat (Hui dan Evranus 2012). Beberapa hasil dari proses pembuatan cincalok dapat dilihat pada Gambar 1 di bawah ini.


Gambar 1. Cincalok fermentasi, Sambal Cincalok dan Cincalok kemasan botol

Peranan Garam, Gula dan Cabai Pada Cincalok
Makanan fermentasi merupakan makanan yang dibuat dengan bantuan dari mikroorganisme sehingga memberikan ciri khusus pada makanan (Nurhayani et al, 2000). Cincalok merupakan makanan dari hasil fermentasi dari udang rebon dengan campuran garam dan gula.
Garam yang ditambahkan pada makanan yang difermentasi bertujuan untuk menghambat aktivitas enzim proteolitik dan untuk menghambat pertumbuhan bakteri pembusuk. Aktivitas antibakteri dari garam disebabkan oleh kemampuannya untuk menurunkan ketersediaan air bebas, dan menurunkan tekanan osmosis, sehingga keseimbangan osmosis dalam sel bakteri terganggu. Oleh karena itu, jumlah garam yang ditambahkan pada makanan fermentasi dapat mempengaruhi populasi mikroorganisme (Destrosier, 1988).
Kadar garam 2-2,5% pada makanan fermentasi, menyebabkan bakteri proteolitik dan pembusuk masih dapat hidup. Peningkatan kadar garam 3-10% dalam kondisi anaerobik, akan merangsang pertumbuhan Bakteri Asam Laktat (BAL). Penambahan garam dengan konsentrasi 7% akan mampu menghambat pertumbuhan bakteri pembusuk (Mackie et al 1971).
Penambahan gula yang merupakan salah satu sumber karbon yang baik, bertujuan untuk membuat rasa manis produk dan merangsang pertumbuhan BAL (Astawan, 2004). Penambahan bawang putih dan cabai pada formula bertujuan untuk meningkatkan citarasa terhadap formula cincalok. Bawang putih dapat menghambat pertumbuhan bakteri pembusuk pada daging karena memiliki senyawa antimikroba yang disebut allicin. Allicin adalah komponen utama yang berperan dalam memberi aroma bawang putih dan salah satu zat aktif yang dapat membunuh kuman-kuman penyakit atau bersifat antibakteri (Ross et al 2001). Allicin juga mampu meningkatkan pertumbuhan mikroorganisme yang menguntungkan di dalam saluran pencernaan, dengan cara menekan pertumbuhan bakteri merugikan, sehingga pemanfaatan makanan untuk pertumbuhan dapat maksimum (Sholikhah, 2009).
Penambahan serbuk cabai yang bervariasi bertujuan untuk mendapatkan formula yang disukai berbagai selera konsumen. Cabai juga berperan dalam mempertahankan mutu produk pangan akibat kerusakan seperti ketengikan, perubahan nilai gizi, perubahan warna dan aroma serta kerusakan fisik lain pada produk pangan (Trubus, 2003). Senyawa aktif kimia yang terdapat pada cabai adalah capsaicin (minyak atsiri), yang tersimpan dalam daging buah, biji atau dalam tempat melekatnya biji. Capsaicin berperan sebagai bakterisida dan fungisida. Capsaicin termasuk dalam golongan kapsasinoid, yaitu zat pedas yang terdapat pada tumbuh-tumbuhan, bersifat larut dalam lemak (non polar) dan mudah teroksidasi selama penyimpanan.

Identifikasi Bakteri Pada Cincalok
Beberapa penelitian bertujuan untuk menemukan berbagai spesies bakteri dari cincalok. Salah satunya yang dilakukan oleh Achmad et al (2013) yaitu membuat eksperimen cairan dari sampel sebanyak 25 mL dicampur dengan bufer air pepton sebanyak 225 mL. Beberapa pengenceran dibuat dengan 0,1% air pepton. Sampel disebar pada agar MRS (De Man, Rogosa dan Sharpe) dan diinkubasi secara anaerob selama 48 jam pada suhu 37oC. Koloni sel tunggal diambil dengan tusuk gigi steril dan diuji lebih lanjut.
Uji morfologi, fisiologi, dan karakteristik biokimia dari isolat ditentukan dengan prosedur standar yaitu uji pewarnaan Gram, uji produksi katalase dan uji produksi gas dilakukan. Pada uji penggunaan laktosa, koloni yang dipilih diulas pada NA (Nutrient Agar) dengan penambahan laktosa dan 0.005 g/L dari ungu bromokresol sebagai indikator pH. Cawan petri diinkubasi pada suhu 30oC selama 24 jam. Isolat yang menggunakan laktosa dan memproduksi asam akan terlihat dari perubahan warna pada media yang berwarna ungu menjadi warna kuning. Uji aktivitas katalase dilakukan dengan penambahan setetes larutan hidrogen peroksida dengan konsentrasi 30% ke ulasan kultur. Reaksi positif didapatkan dengan gelembung udara yang muncul dari koloni yang menandakan produksi gas oksigen. Isolat bakteri asam laktat ditumbuhkan pada medium MRS broth dan diinkubasi secara anaerob selama 48 jam pada suhu 30oC. Sel yang terdapat pada larutan kaldu dipipet ke filter kertas cakram, lalu dikeringkan selama 10 menit. Kertas cakram diletakkan pada permukaan agar yang sebelumnya telah diulas sebanyak 500 μL bakteri indikator.
Uji anti bakteri dilakukan dengan 4 (empat) bakteri indikator yaitu E. coli ATCC 35215, Staphylococcus aureus, Bacillus subtilis, dan Salmonella typhimurium. Uji ini dengan dilakukan pengulangan sebanyak 3 (tiga) kali. Setelah itu cakram diinkubasi selama 24 jam pada suhu 37oC dan zona inhibisi yang mengelilingi cakram diamati (Achmad et al 2013).
Analisis 16s dilakukan untuk mengetahui spesies bakteri yang berada pada cincalok. Dalam amplifikasi 16s digunakan primer forward pA dan primer reverse pE. Produk hasil amplifikasi dipurifikasi dengan spin column. Amplifikasi dilakukan dengan denaturasi awal pada suhu 94oC selama 4 menit dan dengan 29 siklus denaturasi pada suhu 94oC selama 2 menit. Penempelan primer pada suhu 55oC selama 1 menit, dan pemanjangan (elongasi) pada suhu 72oC. Fragmen hasil amplifikasi dikloning dengan menggunakan blunt end dari produk PCR ke vektor kloning pJET 1.2 dan ditransformasikan ke E. coli dengan sel kompeten.
Kemudian DNA dari isolat dianalisis dengan menggunakan elektroforesis gel agarosa dengan kadar 1.0 % (b/v) dalam 1x bufer TAE (Tris-Cl Asetat EDTA) pada tegangan listrik 90 V selama waktu 65 menit. Lalu gel divisualisasikan dengan sistem dokumentasi gel. Untuk transforman yang berhasil, plasmid hasil rekombinasi diekstraksi kembali. Kemudian plasmid yang telah diekstraksi diverifikasi lebih lanjut dengan PCR menggunakan primer vektor yang dituju. Produk PCR hasil purifikasi juga langsung disekuensing dengan primer 16s rRNA. Sekuensing gen dianalisis dengan program BLAST di bank data NCBI GeneBank (Achmad et al 2013).

Penelitian Mengenai Pembuatan Cincalok Dengen Fermentasi Garam Tinggi
Ikan teri nasi merupakan salah satu dari sekian banyak biota kelautan yang menyebar hampir di seluruh perairan Indonesia. Kecil dan unik, mungkin pantas disandang ikan teri ini meski tubuhnya berukuran kecil namun memiliki rasa yang nikmat dan angka nutrisi yang sangat baik, tidak mengherankan jika akhirnya ikan teri banyak penggemarnya. Namun seperti ikan pada umumnya teri nasi sangat mudah rusak dan membusuk, itu sebabnya perlu cara untuk mempertahankan agar tetap awet tanpa harus menghilangkan kenikmatannya yaitu dengan cara diasinkan.
Produk sejenis yang bentuk dan prosesnya hampir menyerupai produk dari teri nasi ini yaitu Calo atau Cincalok yang berbahan dasar udang rebon (Acetes sp), namun produk ini hanya populer di Kalimantan Barat dan negara tetangga Malaysia. Ciri khas dari produk ini adalah rasa yang sangat asin karena merupakan produk fermentasi garam tinggi dengan kadar garam antara 20-30 %.
Penelitian proses pembuatan Cincalok teri nasi (Stolephorus commersonii lacapede) dengan metode fermentasi garam tinggi berupa kajian konsentrasi garam dan konsentrasi gula dilakukan oleh Yanuar pada tahun 2013. Penelitian yang dilakukan Yanuar bertujuan untuk mengetahui konsentrasi garam dan konsentrasi gula yang optimum pada proses fermentasi cincalok teri nasi, serta untuk mengetahui pengaruh konsentrasi garam dan konsentrasi gula terhadap sifat fisik, kimia dan organoleptik cincalok teri nasi. Hipotesis yang diajukan dalam penelitian tersebut adalah Diduga terdapat pengaruh antara kadar garam dan kadar gula terhadap perubahan sifat fisik, kimia dan organoleptik cincalok teri nasi.
Rancangan percobaan yang digunakan dalam kegiatan penelitian tersebut adalah Rancangan Acak Kelompok (RAK) faktorial dengan 2 faktor yaitu Konsentrasi Garam (K) dengan 2 level dan Konsentrasi Gula (L) dengan 3 level. Konsentrasi Garam 20% dan 25%, sedangkan Konsentrasi Gula 0,5; 1 dan 1,5%. Dari kedua faktor tersebut diperoleh 6 kombinasi perlakuan dan setiap kombinasi perlakuan diulang sebanyak 3 kali sehingga diperoleh 18 satuan percobaan.
Analisa yang dilakukan yaitu Analisa Teri Nasi Asin atau Cincalok mulai dari bahan baku hingga produk jadi antara lain : kadar air, kadar abu, kadar garam, kadar protein, kadar N amino bebas, Total Volatile Base Nitrogen (TVBN), Trymethylamine (TMA), total asam; uji pH, uji Aw, Total Bakteri (TPC), dan uji organoleptik rasa dan aroma. Dari hasil pemilihan perlakuan terbaik terhadap sifat fisik, kimia, mikrobiologi adalah pada perlakuan K2L1 sedangkan organoleptik adalah pada perlakuan K1L3. Parameter kadar air 50,67%; kadar abu 10,49%, kadar protein 28,65%, kadar N Amino bebas 3,41 %, Total Asam 1,64 %; TVBN 37,77 mg/100g; TMA 36,47 mg/100g; kadar garam 10.63 %; Aw 0.51; pH 5,47; total bakteri 9,0 x102 (log 2,96). Tingkat kesukaan panelis cincalok teri nasi dengan parameter rasa berkisar antara 100 (5.55) menyatakan suka – 42.5(2.6) menyatakan agak tidak suka; aroma berkisar antara 103 (5.85) menyatakan suka – 37.5 (2.5) menyatakan tidak suka.

Penelitian Mengenai Uji Organoleptik Cincalok
Penelitian mengenai uji organoleptik Cincalok dengan penambahan serbuk bawang putih (Allium sativum) dan serbuk cabe (Capsium Annuum) pernah dilakukan oleh Dyastuti et al pada tahun 2013 di Pontianak Kalimantan Barat.
Formulasi makanan merupakan salah satu cara yang dapat digunakan untuk meningkatkan kualitas makanan, misalnya dengan menambahkan bumbu masak. Beberapa contoh bumbu masak alami yang sering digunakan misalnya bawang merah, bawang putih, cabai merah, jahe, kunyit dan lengkuas. Penambahan bumbu masak selain dapat menambah cita rasa pada makanan fermentasi, juga dapat bersifat sebagai antioksidan ataupun antimikroba yang berperan dalam menghambat pertumbuhan bakteri patogen dan pembusuk (Fardiaz, 1988; Rahayu et al., 1995).
Salah satu makanan fermentasi khas Kalimantan Barat adalah cincalok. Cincalok dibuat dari udang rebon, gula dan garam dengan perbandingan tertentu serta disimpan selama waktu tertentu. Hasil uji organoleptik tentang formulasi cincalok dengan penambahan serbuk bawang putih 1% dan serbuk cabai 1% menunjukkan bahwa responden lebih menyukai jenis Cincalok dengan penambahan serbuk bawang putih (Syahmuardiandi, 2011).
Pengembangan formula cincalok dengan penambahan serbuk bawang putih dan serbuk cabai dilakukan dalam upaya peningkatan kualitas cincalok hasil formulasi. Kajian yang dilakukan dilakukan Dyastuti et al pada tahun 2013 untuk mendapatkan komposisi serbuk bawang putih dan serbuk cabai terbaik dalam pembuatan cincalok. Oleh karena itu, pada penelitian tersebut dilakukan karakterisasi cincalok hasil formulasi yang dibuat dengan penambahan serbuk bawang putih dan serbuk cabai dengan komposisi tertentu dan variasi waktu fermentasi. Parameter yang dianalisis adalah uji organoleptik. Uji organoleptik dilakukan dengan cara memberikan kuisioner kepada masyarakat yang terbiasa mengkonsumsi cincalok mengenai rasa, penampilan, tekstur dan aroma cincalok hasil formulasi.


Gambar 2.
Hasil Analisis Organoleptik Rasa, Penampilan, Tekstur dan Aroma Formula Cincalok
(Sumber : Dyastuti et al 2013)

Hasil uji organoleptik untuk 4 (empat) formula cincalok terlihat pada Gambar 2, menunjukkan responden paling menyukai formula cincalok D. Waktu kematangan dan penampilan yang disukai panelis adalah hari ke-8. Berdasarkan hasil AHP, tekstur formula D juga lebih baik berdasarkan rasa, penampilan dan tekstur dibanding formula lainnya. Masa kadaluarsa dari formula cincalok adalah hari ke-30 berdasarkan tekstur dan penampilan.


Daftar Pustaka
Achmad DI, Nofiani R, Ardiningsih P. 2013. Karakterisasi Bakteri Asam Laktat Lactobacillus sp. RED1 dari Cincalok Formulasi. FMIPA Universitas Tanjungpura. Pontianak.

Alabastro EF, Acevedo TP, Chavez LL. 1985. Proceedings: Food Conference 1985, February 18-23, 1985, Philippine International Convention Center. Manila : Philippine.

Dyastuti E.A, Risa N, Puji A. 2013. Uji Organoleptik Cincalok dengan penambahan serbuk bawang putih (Allium sativum) dan serbuk cabe (Capsium Annuum). Program Studi Kimia, Fakultas MIPA, Universitas Tanjungpura. Pontianak.

Fardiaz, S. 1992, Analisis Mikrobiologi Pangan, Raja Grafindo Persada. Jakarta

Hajar S, Hamid THTA. 2013. Isolation of lactic acid bacteria strain Staphylococcus piscifermentans from Malaysian traditional fermented shrimp cincaluk. Int Food Res J 20 (1): 125-129

Hui YH, Evranus EO. 2012. Handbook of Animal-Based Fermented Food and Beverage Technology, Second Edition. Boca Raton : Taylor & Francis

Hutton W. 2007. The Food of Love: Four Centuries of East-West Cuisine. Singapore : Marshall Cavendish Cuisine.

Rahayu, E., Sudarmadji, S., Wibowo, T.F., dan Djaafar, 1995, Isolasi Bakteri Asam Laktat dan Karakterisasi Agensia yang Berpotensi sebagai Biosafety Makanan Indonesia, Laporan Penelitian

Syahmurdiandi, M., 2011, Studi Formulasi Cincalok Makanan Tradisional Kalimantan Barat, Universitas Tanjungpura, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Pontianak (Skripsi)

Yanuar, N. 2013. Proses Pembuatan Cincalok Teri Nasi (Stolephorus commersonii lacapede) Dengan Metode Fermentasi Garam Tinggi (Kajian Konsentrasi Garam dan Konsentrasi Gula). Skripsi.

THE STUDY OF DISPERSION AND NATURAL REGENERATION AVAILABILITY OF HOPEA NERVOSA KING IN WEHEA PROTECTED FOREST, EAST KUTAI


The Study of Dispersion and Natural Regeneration Availability of Hopea nervosa KING in Wehea Protected Forest, East Kutai
Nanang Sasmita, Sadam Husein and Arbain
The objectives  of the study are to know the dispersion patern, natural offspring avaibility, and density of Hopea nervosa in Wehea Protected Forest. The procedures of this reseaerch use 25 plot which are each 20 x 20 meter in 1 hektare area. The data recuired are Hopea tree wich has 20 cm diameter above and natural regeneration (seedling, sapling, and poles) of Hopea nervosa. The result of this study show that the dispersion pattern of Hopea nervosa in 1 hectare area which is analyzed in cluster using it’s index is 1,25. The cluster  pattern accurs in every cliff side area. Mean while, the natural regeneration availability in wehea protected forest is more highly-existed on seedling and sapling phases than post growth. The seedling growth phase in 174 plants, sapling 26 plants and poles 8 plants and the Hopea nervosa density is 0,64%. The low growth on poles phase is caused by a more dominantly grown tree.

Keywords: Dispersion, Growth, and Density

VISUALIZATION OF TREES SPECIES USING VISUAL BASIC APPLICATION PROGRAM IN SANGKIMA NATURAL TOURIST TRACK AREA, KUTAI NATIONAL PARK, EAST KALIMANTAN


Visualization of Trees Species
Using Visual Basic Application Program
in Sangkima Natural Tourist Track Area,
Kutai National Park, East Kalimantan

Nanang Sasmita, Arief Adi Saputra and Mufti Perwira Putra

This study aims to visualize the types of trees in digital form by using a Visual Basic application in the tourist track area of Sangkima Kutai National Park in East Kalimantan. The method used in this study is explores by tracing along the track way and doing observation, identification, and capture picture for tree morphology and the coordinates of the tree at a radius of 20 meters from the track lane. Visualization method for tree visual is using Visual Basic application 6.0 with Microsoft Access 2007 database. The result of  3,39 Km long track study is found 75 species of trees. The tree is found from a height of 10-100 masl and landforms such as rivers, ponds and a open field. The Total number from the exploration as many as 452 individuals consist of 75 species and classified in 38 families. The tree data is visualizing in a digital by using ArcView application for to create a tree map position. The result from tree species visualization are include scientific name, locally name, ordo, family, genus, picture of tree morphology, conservation status, coordinates and  tree description.

Keywords : Application, Exploration, Tree, Visualization, Visual Basic


OVERSEAS TOURISTS PERCEPTIONS TOWARDS ECOTOURISM DEVELOPMENT IN PREVAB KUTAI NATIONAL PARK

Overseas Tourists Perceptions Towards Ecotourism Development in Prevab Kutai National Park

Nanang Sasmita and Nathan Sulle Palosongan

The research aims to determine the perception of overseas tourists about tourism development in Prevab Kutai National Park. This study uses quantitative methods using questionnaires and interviews along with other studies supporting data as the data crawler tools. The study population was all overseas tourists who visited Prevab Kutai National Park in the period of 2007 to 2011. The samples were overseas tourists who visited from March to May 2013 and the total sample were 23 respondents. In general, the result of the perception level of overseas tourists to the development of ecotourism in Prevab Kutai National Park is a medium level. Quality tourist and natural attractions in the area Kutai National Park can still be relied upon to give satisfaction visitor attractions such as the management and development expected but still need to be improved. Found that the elements of quality tourism products should be improved is the service in the field of services, facilities and infrastructure along with the promotion and tour packages improvements. Uniqueness, originality, beauty and value of the memories provided by the natural attractions in the area Prevab Kutai National Park is considered capable of providing tourist satisfaction. There are significant differences between the perceptions of ecotourism in the area of ​​ Prevab Kutai National Park based on several variables : respondent characteristics (age, gender, level of education, employment and home visitors) and the amount of tourist spends.


Keywords: Perception, Prevab, Overseas Tourists, Tourism.

IDENTIFICATION OF MEDICINAL PLANTS IN WEHEA PROTECTED FOREST OF EAST KUTAI



Identification of medicinal plants
in Wehea Protected Forest of East Kutai

Nanang Sasmita, Rahmadi and Arbain

Identification of medicinal plants research in Wehea Protected Forest of East Kutai Regency aims to obtain information on the types and use of medicinal plants by local communities in Wehea Protected Forest. The research method is exploration and interviews conducted by searching the scientific name and the local name (Dayak of Wehea). Based on interviews and identification obtained 15 types of traditional medicinal plants that can cure 26 kinds of diseases. Parts of the plant that used for traditional medicine is medicinal products are processed traditionally by prescription or local beliefs and practices whether it is supernatural or traditional knowledge. The materials used in traditional medicine process is roots, fruits, leaves, shoots, seeds and rhizomes. Wehea Dayak people have traditional knowledge based on life experiences about the use, the management and the herbs utilization that can be utilized as a traditional medicine. The medicinal plants utilization is passed on orally from generation to generation of ancestors (ancestors). In order the knowledge about the medicinal plant utilization owned by Wehea forests dayak not extinct, it can be inherited, so it need scientifically a deepen researched, it is necessary to documenting as well as further research on the content that contained in medicinal plants of the community that’s commonly used, as well as the cultivation way, because some plant species is rarely found in the surrounding of ​​the Wehea Protected Forest area.
  

Keywords : Identification, Medicinal Plants, Wehea