Cari Blog Ini

Memuat...

Sabtu, 05 November 2011

Exploration Medicinal Plant in Prevab Region of East Borneo Kutai National Park

(Nanang Sasmita, M.Si., Arbain, S.Hut., and Yohanis Barung Turupadang, S.Hut)

Most of the Indonesia people take an advantage of undergrowth plants for traditional medicine which is the heritage of his ancestors. In ecology, undergrowth plant also has a lot of functions. Such as a ground cover, enhancing soil organic matter, and producer component in the food chain, so plants must be maintains its sustainability in forest management systems. Exploration research on undergrowth medicinal plant in Prevab region of East Borneo, Kutai National Park aims to determine the presence of undergrowth medicinal plants, to know its local names, scientific names and the use of undergrowth medicinal plants in Prevab Kutai National Park, East Kalimantan. The research methods is by exploration which is done by looking and finds the types of plants that contained the research location, based on the information of worker and community who know the undergrowth medicinal plants. Based on the exploration results, its finds 38 species undergrowth medicinal plants consisting of 24 families. Those plants can cure about 45 kinds of diseases. The part of plant thats used for drugs include the leaves, stems, flowers, fruits,seeds, roots and rhizomes.

Senin, 20 Juni 2011

ANGKATAN I PELATIHAN BAHASA JERMAN-DIKTI



ANGKATAN I PELATIHAN BAHASA JERMAN-DIKTI

GOETHE INSTITUT JAKARTA

Aminah (Universitas Tadulako)

Ariyano (UPI Bandung)

Budhi Setiawan (Universitas Wijaya Kesuma)

Christoffol Leiwakabessy (Universitas Pattimura)

Dwi Harinitha (ATI Jambi)

Fadli Husain (Universitas Negeri Semarang)

Haipan Salam (UPI Bandung)

Harsman Tandilittin (Polnes Samarinda)

I Wayan Yudha Manik (Universitas Udayana)

Ida Betanursanti (STT Kebumen)

Nanang Sasmita (STIPER Kutai Timur)

Rini Maharini (Universitas Tanjungpura)

Rudianto (Universitas Negeri Surabaya)

Ruly Wiliandri (Universitas Negeri Malang)

Sherly Kusuma Warda Ningsih (Universitas Negeri Padang)

Suprihatin Ali (Universitas Lampung)

Wawan Saptyo Nugroho (UM Magelang)

Yolivia Irna Aviani (Universitas Padang)

Yulianingsih Riswan (UGM)

Zahrotuninimah (UIK Bogor)




Kamis, 21 April 2011

Email at the blogs

Nanang Sasmita, M.Si

Mr/Mrs/friends who is in Indonesia, France, Canada, Germany, England and so on, I'm apogize for email at the blogs about cooperation, literature, library online can't be answered one by one. Because I was bussy the next 6 month at the Goethe Institute and the embassy. Thanks for your understanding.

Bapak/ibu/sahabat yang di Indonesia, Prancis, Canada, Jerman, Inggris dan sebagainya, mohon maaf emailnya di blog mengenai kerjasama, literatur, pustaka online tidak bisa dijawab satu-persatu. Karena selama 6 bulan ini saya ada kesibukan di Goethe Institut dan Kedutaan. Harap maklum.



Selasa, 05 April 2011

PERMASALAHAN (Perambahan dan Pertambangan)

Posting blog oleh Nanang Sasmita, M.Si

Perambahan dan Pemukiman di Dalam TN Kutai

Vayda dan Sahur (1996) mengelompokkan pemukim di TN Kutai berdasarkan 3 wilayah, yaitu (1) Teluk Pandan, disebutkan bahwa pemukim dari Bugis yang berasal dari Bone, Sulawesi Selatan, datang pertama kali pada pertengahan tahun 1960 untuk menghindari kesulitan ekonomi akibat pemberontakan Kahar Muzakar, (2) Selimpus/Kandolo, dihuni pertama kali tahun 1974 dan berkembang tahun 1977 oleh Suku Bugis dan (3) Sangkima, yang dihuni pertama kali tahun 1924 oleh Suku Bugis. Saat itu, Sangkima merupakan hunian peladang berpindah bagi penduduk asli. Keduanya berasimilasi dan semakin banyak pemukim yang berasal dari Selawesi Selatan pada tahun 1954 dan 1960 karena pemberontakan Kahar Muzakar.

Ketiga kampung di TN Kutai tersebut berkembang dan diakui keberadaannya oleh Gubernur Propinsi Kalimantan Timur dengan menetapkannya sebagai desa definitif (Teluk Pandan, Sangkima dan Sangatta Selatan) melalui Keputusan No. 06 Tahun 1997 tanggal 30 April 1997. Dalam perkembangannya, Desa Sangatta Selatan dipecah menjadi dua desa, yaitu Desa Sangatta Selatan dan Singa Geweh dengan adanya Keputusan Gubernur Kalimantan Timur No. 410.44/K.452/1999.

Beroperasinya industri perkayuan, pertambangan batubara, minyak bumi, gas alam dan pupuk di sekitar dan di dalam TN Kutai pada tahun 1970-an dan 1980-an telah menjadikan Bontang dan Sangatta menjadi dua kota tujuan masyarakat pendatang, sehingga keberadaan masyarakat pendatang tidak bisa dihindari lagi.

Luasan TN Kutai beberapa kali mengalami pengurangan, mulai dari penyediaan dan perluasan daerah industri hingga kepentingan pemerintah daerah. Hal ini menyebabkan wacana berpikir baik bagi masyarakat maupun pemerintah daerah bahwa kawasan TNK dapat dialihfungsikan bagi kepentingan yang lain, selain kepentingan konservasi. Wacana berpikir seperti itulah yang pada akhirnya memunculkan spekulan-spekulan tanah di dalam kawasan.

Tahun 1990 disepakati perjanjian pinjam pakai lahan oleh Departemen Kehutanan dan Departemen Perhubungan untuk membangun jalan trans Kalimantan di dalam TN Kutai. Secara tidak langsung, hal ini mengakibatkan semakin tingginya akses yang dimiliki masyarakat untuk masuk ke dalam kawasan.

Sangatta yang ditetapkan sebagai ibukota Kabupaten Kutai Timur membutuhkan lahan bagi pembangunan infrastuktur. Kekhawatiran beberapa pihak terhadap perkembangan Sangatta setelah ditetapkan menjadi ibukota Kabupaten Kutai Timur menjadi kenyataan. Dalam rencana tata ruangnya, Kota Sangatta di masa depan akan dikembangkan dengan dibangunnya beberapa fasilitas umum seperti bandara, jalan lingkar, asrama polisi dan terminal yang semuanya akan dibangun di dalam kawasan TN Kutai yang ingin di-enclave.

Sisi lain pada era reformasi, telah mengubah perilaku masyarakat yang tidak kondusif terhadap pengelolaan TN Kutai. Sekarang ini masyarakat beranggapan bahwa TN Kutai yang menumpang pada desa-desa, bukannya masyarakat yang menduduki/merambah kawasan TN Kutai.


Kandungan Batubara dan Kebijakan Pemekaran Wilayah

Nilai TN Kutai yang bukan hanya dipahami sebagai bank plasma, namun juga sebagai kawasan yang potensial dengan kandungan batubara, akhirnya harus sampai pada polemik untuk mempertahankan TN Kutai atau mengkonversinya menjadi pertambangan batubara. Di sekitar kawasan TN Kutai terdapat banyak perusahaan batubara seperti PT. Kaltim Prima Coal (PT. KPC). Pertambangan batubara berdampak pada hutan alami menjadi lahan yang terbuka, tandus dan kritis. Polemik lain yang ada berangkat dari keinginan dari Pemerintah Kabupaten Kutai Timur untuk meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD), dengan memberikan Surat Keterangan Izin Peninjauan (SKIP) Nomor: 004.8/Bup.Kutai/Distamb.III.2/ SKIP-BB/ VII/2002 tanggal 8 Juli 2002 yang diberikan kepada PT Emas Goldenbell, yang menstimulir maraknya aktivitas pembukaan lahan. Aktivitas pembukaan lahan juga dipicu adanya upaya pemekaran wilayah di desa-desa enclave, yang memberikan ruang bagi para pendatang untuk membuka lahan di TN Kutai.